kesehatan jiwa remaja

 

Hasil gambar untuk foto kesehatan remaja

 

Dalam membentuk pematangan kejiwaan maka diperlukan peran keluarga yang sangat berarti. Masa remaja merupakan pengembangan identitas diri, dimana remaja berusaha mengenal diri sendiri, ingin orang lain menilainya, dan mencoba menyesuaikan diri dengan harapan orang lain. Pola asuh orang tua sangat menentukan akan jadi apa remaja nantinya. Misalnya pola asuh yang otoriter akan menyebabkan anak menjadi pemberontak, anak tidak mau mengungkapkan pendapatnya dan lainnya.

Faktor lain yang juga sangat berpengaruh adalah pengaruh dari lingkungan sekolah. Kebanyakan orang tua menaruh harapannya besar pada lingkungan pendidikan di sekolah. Suasana sekolah, prasyarat terciptanya lingkungan kondusif bagi kegiatan belajar mengajar adalah di suasana sekolah. Suasana sekolah sangat berpengaruh terhadap perkembangan jiwa remaja yaitu: 1) Kedisiplinan, sekolah yang tertip dan teratur akan membangkitkan sikap dan perilaku disiplin pada siswa. Sebaliknya sekolah yang kacau dan disiplin longgar akan berisiko, bahwa siswa dapat berbuat semaunya dan terbiasa dengan hidup tidak tertib, tidak memiliki sikap saling menghormati, cenderung brutal dan agresif, 2) Kebiasaan belajar, suasana sekolah yang tidak mendukung kegiatan relajar mengajar akan berpengaruh terhadap minat dan kebiasaan belajar, 3) Pengendalian diri, suasana bebas di sekolah dapat mendorong siswa sesukanya tanpa rasa segan terhadap guru. Hal ini akan berakibat siswa sulit untuk dikendalikan.

Remaja lebih banyak berada di luar rumah bersama dengan teman sebaya. Jadi dapat dimengerti bahwa sikap, pembicaraan, minat penampilan serta perilaku teman sebaya lebih besar pengaruhnya daripada keluarga. Adanya hambatan dalam tahap perkembangan, dapat menimbulkan masalah kesehatan jika bila tak terselesaikan dengan baik. Masalah tersebut berasal dari remaja sendiri, hubungan orang tua dan remaja, atau akibat interaksi sosial di luar lingkungan keluarga. Sebagai akibat lanjutnya dapat terjadi masalah kesehatan perilaku remaja dengan manifestasi bermacam-macam, antara lain kesulitan belajar, kenakalan remaja, dan masalah perilaku seksual.

Kesulitan belajar adalah suatu keadaan (kondisi) dimana remaja tidak menunjukkan prestasi sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Untuk membantu mengatasi kesulitan belajar pada remaja perlu mengetahui faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kesulitan belajar tersebut. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kesehatan jiwa remaja yaitu:1) Biologik dan bawaan: adanya penyakit, kurang gizi, kelelahan, taraf kecerdasan kurang, gangguan pemusatan perhatian (sulit berkonsentrasi), gangguan perkembangan fisik. 2) Psikologik dan pendidikan: cara orang tua dan guru yang tidak tepat dalam pengajaran. 3) Lingkungan sosial dan budaya: situasi keluarga yang tidak kondusif, tidak ada keharmonisan, perilaku orang tua dan saudara yang sering mempermalukan anak, anak dibandingkan dengan remaja lain, saudara atau temannya, beban pekerjaan yang berlebihan dan tersisihkan dari teman pergaulan sebaya.

Meningkatnya kadar hormon testosteron pada remaja akan mempengaruhi dorongan seksual, seiring dengan meningkatnya dorongan seksual timbul konflik karena upaya untuk mengendalikannya harus sesuai nilai dan norma yang dianut. Bentuk tingkah laku seksual dapat mulai dari perasaan tertarik, berkencan, bercumbu, sampai bersenggama. Obyek seksual bisa berupa orang lain, hanya dalam khayalan atau diri sendiri. Tingkah laku ini bisa berdampak cukup serius seperti perasaan tegang, bingung, perasaan bersalah dan berdosa, sedih, marah, dan lain lain

Apabila remaja tidak dapat mengatasi berbagai stresor yang ada, dapat timbul berbagai kondisi yang negatif seperti cemas, depresi, bahkan dapat memicu munculnya gangguan psikotik. Dampak yang dapat terjadi pada remaja dalam kondisi seperti di atas adalah timbulnya berbagai permasalahan yang kompleks, baik fisik, emosi maupun sosial termasuk pendidikan misalnya dapat timbul berbagai keluhan fisik yang tidak jelas sebabnya ataupun berbagai permasalahan yang berdampak sosial, seperti malas sekolah, membolos, ikut perkelahian antar pelajar, menyalah gunakan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA), dan lain-lain.

Oleh karena itu, untuk menciptakan remaja berkualitas perlu dilakukan berbagai upaya tindakan nyata dengan cara mempersiapkan generasi muda yang kuat dan tahan dalam menghadapi berbagai macam tantangan hidup. Agar dapat melalui masa remajanya dengan baik, sangat penting peran orang tua, guru, tokoh masyarakat dan masyarakat sekitarnya dalam memberikan bimbingan dan teladan.

Untuk lebih jelas klik disini

lampiran: 1860-4361-2-PB

Cederblad, M. 1999. Mental Health in International Adoptees as Teenagers and Young Adults. An Epidemiological Study. J. Child Psychol. Psychiat. 40 (8): 1239-1248.

Fellinge, J., Holzinger, D., Beitel, C., Laucht, C.,  Goldber, D.P. 2009. The Impact of Language Skills on Mental Health in Teenagers with Hearing Impairments. Acta Psychiatr Scand, 120: 153–159.

Guzmdn, R.M.A., V. Nelly Salgado de Snyder; Romero, M. and Mora, M.E.M. 2004. Paternal Absence And International Migration: Stressors And Compensators Associated With The Mental Health Of Mexican Teenagers Of Rural Origin. Adolescence, 39 (156).

Huang, Z.J., Wong, F.Y., Ronzio, C.R. and Yu, S.M. 2007. Depressive Symptomatology and Mental Health Help-Seeking Patterns of U.S. and Foreign-Born Mothers. Matern Child Health J, 11: 257–267.

Lilian Coelho de Oliveira; Clarissa de Rosalmeida Dantas; Renata Cruz Soares de Azevedo and Banzato, C.E.M. 2008. Counseling Brazilian Undergraduate Students: 17 Years of a Campus Mental Health Service. Journal of American College Health, 57 (3).

Pastor, P.N. and Reuben, C.A. 2009. Emotional/Behavioral Difficulties and Mental Health Service Contacts of Students in Special Education for Non–Mental Health Problems. Journal of School Health, 79 (2).

Walker, Z. 2002. Health Promotion for Adolescent in Primary Care: Randomised Controled Trial. BMJ, 325.